Langsung ke konten utama

Presiden Saya Jokowi, Saya Indonesia, Saya Pancasila



Sekali lagi seperti tulisan saya kemarin soal video nyentilnya Kaesang Pangarep, kali ini sebelum membaca tulisan saya lebih lanjut saya mohon Anda menonton dulu video dar Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, di atas. Agar persepsi bisa disamakan dan Anda juga nyambung dengan apa yang hendak saya bahas. Cukup 35 detik saja waktu yang Anda perlukan.

Pancasila itu jiwa dan raga kita. Ada di aliran darah dan detak jantung kita. Perekat keutuhan bangsa dan negara. Saya Jokowi. Saya Indonesia. Saya Pancasila.

Untaian kalimat ini singkat, lugas, penuh makna. Video ini memang dibuat jelang peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni, mendatang. Dan ini sangat relevan sekali dengan kondisi negara ini yang sedang dilanda berbagai isu. Isu-isu yang sedang santer ini memang rentan sekali mengoyak persatuan dan kesatuan bangsa.

Yang paling kontras dengan peringatan Hari Lahir Pancasila adalah tentang masuknya golongan dan organisasi yang menginginkan ideologi khilafah menggantikan Pancasila sebagai dasar negara. Sebetulnya yang seperti ini bukan hanya Hizbut Tahrir Indonesia. Silahkan Anda cek beberapa ormas dan partai Islam yang di beberapa kesempatan tokoh-tokohnya sering sekali mengangkat topik ini.
Profesor Nadirsyah Hosen pernah mengutarakan bahwa ada tiga kekhilafan yang jamak terjadi di masyarakat soal khilafah ini. Benar bahwa dalam sumber-sumber klasik ajaran Islam terdapat pembahasan mengenai kewajiban mengangkat seorang khalifah, imam, atau amir. Namun ini tak berarti bahwa institusi “khilafah” sebagaimana dibayangkan oleh beberapa kelompok Islam wajib ditiru secara sama persis. Kewajiban mengangkat khalifah adalah tentang kewajiban mengangkat pemimpin, yang kehadirannya adalah keniscayaan dalam suatu institusi politik. 3 khilaf itu adalah :

Khilaf yang ketiga ketika khilafah dipahami sebagai satu-satunya solusi bagi seluruh persoalan umat. Khilafah dengan segala macam bentuk dan sistemnya. Padahal khilafah tidak lepas dari beragam persoalan dan kekurangan. Tiga orang khalifah yang merupakan Sahabat Nabi yang utama—Umar, Utsman, dan Ali—meninggal dibunuh. Dua di antaranya bahkan dibunuh oleh sesama umat Islam sendiri. Jadi menyatakan bahwa khilafah yang dimaksud oleh kelompok-kelompok radikal itu sebagai satu-satunya jalan keluar adalah salah.

Saya yakin, seperti halnya video Kaesang soal minta proyek dan keprihatinan atas intoleransi yang terjadi, maka video Presiden Jokowi ini tidak bisa dipandang hanya sekedar memeriahkan Hari Lahir Pancasila semata. Ada pesan besar yang disampaikan Jokowi setelah sebelumnya Ia mengatakan gebuk saja kalau PKI muncul (dan herannya kata gebuk ini juga diprotes oleh mereka yang selama ini sering menakut-nakuti masyarakat dengan isu kebangkitan PKI), sekarang Ia menegaskan dirinya adalah sosok yang dideskripsikan dalam tiga hal : Jokowi, Indonesia, Pancasila. Ini adalah identitas dan harga mati yang disematkan oleh Presiden.

Ia adalah Jokowi, menjadi dirinya sendiri dan bukan boneka siapa-siapa, jangan coba-coba mengendalikannya. Ia Indonesia, bukan antek asing, 100% nasionalis. Ia Pancasila, tidak akan membiarkan siapapun mengusik ideologi negara. 

Saya Rahmatika, Presiden saya Jokowi. Saya Indonesia. Saya Pancasila. Kamu?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

1.362 MW Pembangkit dari Proyek 35.000 MW Sudah Beroperasi

Program 35.000 Mega Watt (MW) yang dicanangkan oleh pemerintah terus menunjukkan perkembangan. Hingga 1 Februari 2018, tercatat pembangkit listik yang telah beroperasi adalah sebesar 1.362 MW dan yang sedang tahap konstruksi sebesar 17.116 MW. "Peningkatan ini tak lepas dari kontribusi pembangkit listrik PLN maupun Independent Power Producer (IPP)," kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi dalam keterangan tertulisnya, Senin (5/3/2018). Baca juga:  Bagaimana Progres 35.000 MW Jokowi? Ini Penjelasan PLN Sejauh ini, sebesar 896 MW dari total 1.362 MW yang beroperasi dihasilkan dari IPP, sementara 466 MW dibangun oleh PT PLN (Persero). Pembangkit yang beroperasi tersebar di wilayah Sulawesi dengan total 538 MW, disusul Sumatera 455 MW, Maluku dan Papua 135 MW, Kalimantan 126 MW, sedangkan sisanya tersebar di wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara sebesar 108 MW. Lebih lanjut, Agung menambahkan saat ini sebany...

Kenapa Orang Indonesia Doyan Sebar "Hoax" di Medsos?

By: Oik Yusuf ilustrasi JAKARTA — Sudah bukan rahasia lagi bahwa berita palsu alias hoax merajalela di ranah digital Tanah Air. Jalurnya bisa berupa situs online , media sosial, hingga chatting di aplikasi pesan instan. Kenapa orang Indonesia getol menyebarkan hoax ? Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax Septiaji Eko Nugroho mengutarakan bahwa sebabnya mungkin berkaitan dengan penggunaan teknologi yang tidak dibarengi dengan budaya kritis melihat persoalan. "Kita itu termasuk lima besar pengguna smartphone dunia, tapi tingkat literasinya kedua terbawah setelah Botswana di Afrika," ujar Septiaji ketika berbicara dalam deklarasi Masyarakat Anti Hoax di Jakarta, Minggu (8/1/2017). Septiaji mengacu pada hasil riset World's Most Literate Nation yang dipublikasikan pertengahan tahun lalu. Dari 61 negara yang dilibatkan dalam studi tersebut, Indonesia memang menempati urutan ke-60 soal minat baca masyarakatnya. Walhasil, menurut ...

Aksi 313 Siap Dijalankan, Bukti Dikasih Hati Minta Usus

By XHard Seperti diketahui, Forum Umat Islam (FUI) bersama dengan beberapa para alumni aksi 212 akan melakukan aksi lanjutan yang dinamakan aksi 313 pada Jumat, 31 Maret 2017 mendatang. Agendanya masih sama seperti yang dulu, menuntut Ahok mundur. Bahkan mereka juga rencananya akan menuntut Jokowi memberhentikan Ahok. Rencananya mereka akan mulai shalat Jumat di Masjid Istiqlal, lalu dilanjutkan dengan jalan kaki ke Monas dan menuju depan Istana, seperti yang dikatakan Sekjen FUI Muhammad Al-Khaththath. Lho, memang kemana GNPF MUI? Bukankah selama ini mereka yang paling aktif dan rajin melakukan aksi beginian untuk menghentikan Ahok? Kenapa sekarang FUI yang terkesan jadi pelopornya? Oh, iya mungkin ini ada hubungannya dengan beberapa pentolan GNPF MUI yang sedang dilaporkan dan terkena kasus, jadi mungkin tidak berani terlalu unjuk gigi. Ditakutkan nanti kalau gigi terlalu diunjuk, bisa-bisa dicopot. Orang awam s...