Langsung ke konten utama

Kerja nyata Jokowi hasilkan Pulau Liran diujung RI terang benderang

http://buletininfo.com/v1/wp-content/uploads/2017/09/liran3.jpg
Liran – Ketersediaan listrik merupakan salah satu kebutuhan dasar yang diperlukan suatu wilayah. Tak terkecuali wilayah yang berada di garis terdepan, terluar atau terpencil Indonesia.
Hal inilah yang saat ini tengah diemban oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) (PLN), sebagai satu-satunya BUMN penyedia listrik di Indonesia. Misinya untuk menerangi seluruh desa di Indonesia pada 2019 mendatang harus dijawab meski tantangan dan medan yang dilalui terkadang terlihat mustahil untuk dilakukan.
Pulau Liran, bagian dari Kabupaten Maluku Barat Daya, menjadi salah satu daerah yang akan diterangi oleh PLN secara penuh dalam waktu dekat. Pulau terluar di sisi tenggara Indonesia ini masih sangat minim disentuh oleh pembangunan, khususnya BUMN.
Bahkan wilayah yang lebih dekat ke negara Timor Leste ini mendapat sentuhan lebih banyak dari negara tetangga tersebut dibanding Indonesia. Mulai dari kesehatan, jaringan telekomunikasi, hingga pasokan beras dan rokok. Ironis memang, di tengah fakta bahwa 80% kebutuhan logistik Timor Leste justru dipasok oleh barang-barang dari Indonesia sendiri.
PLN sendiri saat ini telah membangun infrastruktur kelistrikan di Pulau Liran dengan total biaya lebih dari Rp 12 miliar sejak 2015 lalu. Namun dalam perjalanannya, tidak semua kepala keluarga di Pulau Liran bisa membayar biaya pemasangan listrik ke rumahnya, sehingga masih banyak rumah yang belum teraliri listrik.
Bantuan pemasangan listrik pun akhirnya diberikan gratis untuk 130 Kepala Keluarga (KK), sekolah dan lampu penerangan jalan senilai lebih dari 450 juta rupiah pada awal Agustus lalu. Namun, masih ada sekitar 25 KK lagi di Dusun Uspisera yang belum tersambung jaringan transmisi dari PLTD yang telah dibangun oleh PLN.
Direktur Human Capital Management PLN Muhamad Ali mengatakan, saat ini pihaknya akan membangun jaringan transmisi tersebut sepanjang kurang lebih 4 km lagi, dan ditargetkan rampung pada bulan November mendatang.
“Di Liran, wilayah sebelahnya ini sudah dilistriki, tapi sebelahnya lagi belum. Belum itu karena medannya di balik gunung. Jalan ke sana belum ada, sehingga harus merintis jalan ke situ. November kita targetkan selesai pembangunan distribusi 4 km. Kita berharap Pulau Liran bisa terlistriki semuanya,” katanya saat ditemui di Pulau Liran, Maluku, Rabu (20/9/2017).
Kehadiran PLN sendiri disambut hangat warga Pulau Liran. Warga mengaku sejak masuknya listrik, kehidupan perekonomian mereka lebih terbantu, karena warga tidak lagi terbebani biaya bahan bakar untuk penerangan dan aktivitas lainnya.
“Dulu sebelum ada listrik, saya harus menggunakan tiga pelita, dalam sebulan kami bisa menghabiskan 200 hingga 300 ribu rupiah.namun dengan masuknya listrik kini kami hanya membayar 30-60 ribu saja perbulan,” tutur Moses, salah satu warga Liran di tempat.
Warga lainnya bernama Agus mengaku kini bisa menghemat hingga Rp 3 juta lantaran listrik yang digunakannya lebih hemat.
“Dulu saya pakai mesin genset berbahan bakar solar. Satu malam itu habis 10 liter atau Rp 100.000. Sekarang beli token listrik, cukup Rp 100.000 sebulan. Enggak pusing-pusing lagi lihat mesin genset sudah habis atau belum untuk isi bahan bakar,” ungkapnya.
Sebagai informasi, seluruh pasokan listrik di Pulau Liran saat ini berasal dari suplai dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dengan daya terpasang 240 kWh, dan rata-rata Biaya Pokok Produksi (BPP) di pulau tersebut sebesar 11.182 kWh.
Dengan BPP yg tinggi, PLN tetap menjual kWh untuk warga Liran dengan harga subsidi yakni Rp 650/kWh. Hal ini sesuai dengan amanah Undang-Undang (UU), di mana PLN sebagai penyedia listrik negara wajib memberikan pelayanan listrik yang terjangkau bagi masyarakat. Untuk itulah subsidi silang dilakukan salah satunya berasal dari kebijakan subsidi listrik tepat sasaran.
Pulau Liran sendiri berlokasi cukup terpencil, dengan jumlah penduduk sekitar 1.118 jiwa atau 236 KK. Lokasinya lebih dekat ditempuh dari wilayah Timor Leste dibanding Indonesia sendiri.
Akses menuju Liran tergolong sulit, karena harus melewati ganasnya ombak laut Banda dan selat Wetar. Jika ditempuh dari Pulau Moa, di Ambon butuh waktu sekitar 8 jam perjalanan naik kapal cepat. Sedangkan dari Dili di Timor Leste, bisa ditempuh dengan waktu hanya 3 jam saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

1.362 MW Pembangkit dari Proyek 35.000 MW Sudah Beroperasi

Program 35.000 Mega Watt (MW) yang dicanangkan oleh pemerintah terus menunjukkan perkembangan. Hingga 1 Februari 2018, tercatat pembangkit listik yang telah beroperasi adalah sebesar 1.362 MW dan yang sedang tahap konstruksi sebesar 17.116 MW. "Peningkatan ini tak lepas dari kontribusi pembangkit listrik PLN maupun Independent Power Producer (IPP)," kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi dalam keterangan tertulisnya, Senin (5/3/2018). Baca juga:  Bagaimana Progres 35.000 MW Jokowi? Ini Penjelasan PLN Sejauh ini, sebesar 896 MW dari total 1.362 MW yang beroperasi dihasilkan dari IPP, sementara 466 MW dibangun oleh PT PLN (Persero). Pembangkit yang beroperasi tersebar di wilayah Sulawesi dengan total 538 MW, disusul Sumatera 455 MW, Maluku dan Papua 135 MW, Kalimantan 126 MW, sedangkan sisanya tersebar di wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara sebesar 108 MW. Lebih lanjut, Agung menambahkan saat ini sebany...

Kenapa Orang Indonesia Doyan Sebar "Hoax" di Medsos?

By: Oik Yusuf ilustrasi JAKARTA — Sudah bukan rahasia lagi bahwa berita palsu alias hoax merajalela di ranah digital Tanah Air. Jalurnya bisa berupa situs online , media sosial, hingga chatting di aplikasi pesan instan. Kenapa orang Indonesia getol menyebarkan hoax ? Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax Septiaji Eko Nugroho mengutarakan bahwa sebabnya mungkin berkaitan dengan penggunaan teknologi yang tidak dibarengi dengan budaya kritis melihat persoalan. "Kita itu termasuk lima besar pengguna smartphone dunia, tapi tingkat literasinya kedua terbawah setelah Botswana di Afrika," ujar Septiaji ketika berbicara dalam deklarasi Masyarakat Anti Hoax di Jakarta, Minggu (8/1/2017). Septiaji mengacu pada hasil riset World's Most Literate Nation yang dipublikasikan pertengahan tahun lalu. Dari 61 negara yang dilibatkan dalam studi tersebut, Indonesia memang menempati urutan ke-60 soal minat baca masyarakatnya. Walhasil, menurut ...

Aksi 313 Siap Dijalankan, Bukti Dikasih Hati Minta Usus

By XHard Seperti diketahui, Forum Umat Islam (FUI) bersama dengan beberapa para alumni aksi 212 akan melakukan aksi lanjutan yang dinamakan aksi 313 pada Jumat, 31 Maret 2017 mendatang. Agendanya masih sama seperti yang dulu, menuntut Ahok mundur. Bahkan mereka juga rencananya akan menuntut Jokowi memberhentikan Ahok. Rencananya mereka akan mulai shalat Jumat di Masjid Istiqlal, lalu dilanjutkan dengan jalan kaki ke Monas dan menuju depan Istana, seperti yang dikatakan Sekjen FUI Muhammad Al-Khaththath. Lho, memang kemana GNPF MUI? Bukankah selama ini mereka yang paling aktif dan rajin melakukan aksi beginian untuk menghentikan Ahok? Kenapa sekarang FUI yang terkesan jadi pelopornya? Oh, iya mungkin ini ada hubungannya dengan beberapa pentolan GNPF MUI yang sedang dilaporkan dan terkena kasus, jadi mungkin tidak berani terlalu unjuk gigi. Ditakutkan nanti kalau gigi terlalu diunjuk, bisa-bisa dicopot. Orang awam s...