Langsung ke konten utama

Postingan

Ketum MUI: Jaga Negara dari Bahaya Separatisme dan Radikalisme

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Maruf Amin mengingatkan agar negara ini harus dijaga dengan landasan kerukunan antar umat beragama. Menurut Maruf, kerukunan itu menjadi landasan utama dalam menjaga keutuhan bangsa. “Negara kita adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), juga final. Oleh karena itu negara ini harus kita jaga dari berbagai elemen yang akan merusak, yang akan mengganti Dasar Negara dengan yang lain, apa itu agama atau dasar yang lain,” kata Maruf saat menghadiri acara 171717 di Mabes TNI di Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (17/8/2017). Maruf menyebut kelompok radikal harus diwaspadai. Sebab, kelompok-kelompok itu ingin memisahkan diri dari NKRI. “Dan kita harus menjaga dari kelompok radikal, dan kita harus menjaga negara ini dari upaya pemisahan diri atau separatisme yang mungkin terjadi,” sebut Maruf. Dia lalu menyinggung soal kerukunan antar umat beragama. Menurutnya, negara harus dijaga dari kelompok-kelompok yang intoleran. “K...

5 Strategi Licik Islam Radikal Kuasai Indonesia

JAKARTA – Dalam riset yang diterbitkan bentuk buku berjudul Wajah Para Pembela Islam (2010), Setara Institute Jakarta menyebutkan bahwa berbagai kelompok Islam radikal telah menyusun strategi dan taktik yang lebih canggih dalam pergerakan mereka. Pernah dimuat Harian Bernas pada 5 Agustus 2016. [Baca; Ulama Su’ Lakukan Mal Praktik Agama ] Ini bertujuan juga untuk menghancurkan kelompok Islam lainnya. Memahami strategi dan taktik kaum radikal ini sangat penting agar pemerintah, para ulama , organisasi,  serta masyarakat secara umum waspada akan gerakan mereka. Strategi tersebut adalah: 1. Aliansi Politik Kelompok radikal membangun dukungan politik dengan politisi atau penguasa. Biasanya saat ada momen politik pemilu atau pilkada. Ada hubungan simbiosis mutulisme dalam aliansi ini. 2. Cari Dukungan dari Tokoh dan Ormas Islam Moderat Dikarenakan jumlahnya sedikit, maka kelompok intoleransi tersebut membangun hubungan dengan tokoh agama atau ormas yang moderat . Me...

Terorisme Harus Diberantas Secara Total

Semua pihak termasuk prajurit  Tentara Nasional Indonesia (TNI) diminta untuk mewaspadai aksi terorisme. Hal ini menyusul adanya aksi teror baik terhadap aparat keamanan maupun aksi-aksi kejahatan yang menimpa masyarakat dan juga prajurit TNI. Terorisme adalah kejahatan negara. Karena itu, pemberantasan terorisme tidak bisa dilakukan secara parsial, tetapi harus dilakukan secara total oleh semua elemen bangsa, semua pemangku kepentingan Negara.  “Atas nama negara dibawah payung Undang-Undang Anti Terorisme mampu berperang melawan terorisme,”ungkap Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dalam amanat tertulisnya yang dibacakan Wakil Komandan Lantamal XI Kolonel Laut (P) Dr. Benny Sukandari, SE, MM pada upacara dilaksanakan  di Lapangan Apel Mako Lantamal XI, Senin (17/7). Menurutnya, kita semua harus selalu bersikap hati-hati dan waspada dimanapun kita berada, karena kejahatan sering muncul secara tiba-tiba dan membawa jatuh korban. “Seperti kita keta...

Terorisme Menyasar Generasi Muda

HAMPIR tak ada lagi sekat yang menghalangi ruang berinteraksi satu dengan yang lain di dunia ini. Transformasi pola komunikasi dan interaksi sosial sedemikian cepat seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Bagi Indonesia, lebih dari separuh penduduknya telah memanfaatkan jaringan internet dalam aktivitas sehari-hari. Hasil survei Data Statistik Pengguna Internet Indonesia oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Indonesia pada 2016 adalah 132,7 juta pengguna atau sekitar 51,5% dari total jumlah penduduk Indonesia sebesar 256,2 juta. Dari jumlah itu, pengguna terbanyak adalah generasi muda (usia 17-34 tahun), yaitu 56,7 juta atau 42,8%. Pengguna usia 35-44 tahun sebesar 29,2%, sedangkan pengguna paling sedikit adalah usia 55 tahun ke atas hanya sebesar 10%. Paling banyak pengguna internet menggunakan perangkat mobile (smartphone) sebesar 63,1 juta atau sekitar 47,6%. Persentase yang besar pengguna dari kal...

Bahaya Rekrutmen Teroris Via "Online"

KEDIRI - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris Komjen Pol Suhardi Alius mengatakan, saat ini terjadi pergeseran pola rekrutmen anggota baru kelompok teroris . Jika pada awalnya penerimaan anggota baru dilakukan dengan tatap muka yang berarti adanya pertemuan secara fisik, kini berubah dengan memanfaatkan teknologi informasi. Kini, rekrutmen anggota dilakukan melalui dunia maya. Pola ini juga melahirkan adanya pengambilan sumpah setia atau baiat secara online . "Mereka (perekrut teroris) sudah intens mencuci otak melalui media sosial," ujar Suhardi Alius saat menghadiri Harlah Muslimat NU ke-71 di GOR Jayabaya Kota Kediri, Jawa Timur, Minggu (2/4/2017). Mantan Kabareskrim Polri ini menyebutkan contoh orang yang terjerat paham radikalisme melalui dunia maya. Contohnya yaitu Iv yang ditangkap di Sumatera Utara dan seorang lainnya yan...

Upaya Mencegah Radikalisme Pelajar

Surabaya (BM) - Pemerintah Kota Surabaya melakukan upaya pencegahan radikalisme di kalangan pelajar di Kota Pahlawan, salah satunya dengan cara menggelar penyuluhan agama di sekolah-sekolah.   "Yang perlu diajarkan ke anak-anak dan juga warga Surabaya adalah tentang kepedulian dan kasih sayang. Kita memang ditakdirkan berbeda-beda tapi bukan berarti dengan berbeda itu lalu semua jadi musuh kita," kata Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di acara dialog penyuluh agama dalam rangka pencegahan paham radikal terorisme di Surabaya   Risma menyadari merebaknya paham radikalisme nantinya bisa berujung pada tindakan terorisme. Kalangan yang paling rawan untuk ditanami paham radikalisme adalah anak-anak usia sekolah.   Selain itu, lanjut dia, yang perlu ditanamkan kepada para pelajar adalah tentang kepedulian. Jika nilai itu sudah ditanamkan, maka orang tidak akan tega melakukan kekerasan dan terorisme.   "Jadi nanti tahun depan kita akan bany...

Radikalisme Menuju Terorisme

TINDAKAN Pemerintah Orde Baru membina kelompok mantan Darul Islam atau Negara Islam Indonesia (NII) dan Tentara Islam Indonesia (TII) pengikut SM Kartosuwiryo seperti memelihara anak macan. Selagi masih kecil berlaku jinak dan patuh, namun setelah besar justru akan memangsa yang memeliharanya. Hal tersebut terlihat pada masa digulirkannya reformasi 1998. Orde Baru tumbang dan berganti dengan Orde Reformasi yang menggaungkan kebebasan. Pada masa bergulirnya Orde Reformasi itu, romantisme perjuangan DI/TII kembali mengilhami sejumlah ormas Islam dan kepemudaan di daerah, khususnya di tempat-tempat yang pada masa lalu pernah menjadi basis perjuangan DI/TII. Para ormas dan kelompok kepemudaan itu membentuk komite-komite yang memperjuangkan penegakkan sya'riat Islam. Misalnya Komite Persiapan Penegakkan Sya'riat Islam di Banten, Front Thoriqatul Jihad di Kebumen,...