Langsung ke konten utama

Postingan

Waspada penyebaran Khilafah di kampus

Jakarta – Kalangan Mahasiswa kini harus waspada terhadap penyebaran konsep Khilafah di kampus – kampus. Seperti kita ketahui konsep Khilafah jelas sekali bertentangan dengan Dasar Negara kita yaitu Pancasila. Oleh sebab itu, generasi muda Indonesia harus secara sadar dapat menolak Khilafah dan tidak terpengaruh dengan segala ajaran Khilafah yang mungkin saja mengandung unsur mengiming-imingi sesuatu yang menguntungkan ataupun segala sesuatu yang mencoba merubah pandangan para mahasiswa. Hizbut Tahrir Indonesia-HTI  yang menjadi “motor” penyebar konsep Khilafah saat ini semakin masif untuk menjangkau mahasiswa karena dinilai menjadi “obyek” empuk untuk dapat dipengaruhi karena tidak sedikit dari mahasiswa masih mencari jati diri. Oleh karenanya hal tersebut harus dicegah. HTI kini sudah dilarang oleh pemerintah sehingga mereka merambah ke kampus-kampus seperti video yang pernah diunggah tahun 2014 lalu dan kembali diunggah...

ISIS dan Semangat Jihad ‘Kudus’-nya

Dulu terlintas dipikiran kita bahwa ISIS itu pasti hanya ada di Suriah dan sekitarnya. Pemenggalan kepala demi pemanggalan kepala, pembakaran orang-orang hidup, hingga banyak penyiksaan lainnya hingga penghilangan nyawa sesamanya, pasti hanya akan terjadi disana. Tapi ternyata, sekarang tragedi kemanusian itu bukan hanya terjadi disana, tapi sudah menjalar ke seluruh dunia, ke Asia ini, khususnya Indonesia. Pemahaman mereka tentang kekerasan dan pemaksaan adalah hal yang biasa dalam hidup mereka. Ternyata bibit-bibit jahat mereka sudah ditanamkan sejak usia mereka masih belia. Generasi-generasi awal pendiri ISIS sepertinya sudah biasa dan bahkan sudah terlatih untuk tidak lagi memiliki kasih dan cinta dalam hidupnya. Membunuh orang ‘kafir’, penghianat apalagi kalau sudah murtat dimata mereka adalah sah-sah saja dan bahkan wajib hukumnya. Buku ISIS untuk anak-anak sumber : Nasional.kompas.com Hari-hari ini, kejadian-kejadian awal seperti penganiayaan, ...

Dalam Seminggu Ini Terjadi 3 Teror Untuk Polisi. UU Terorisme Harus Segera Diselesaikan!

Lebaran kali ini cukup angker bagi kepolisian. Tercatat dalam satu minggu terakhir terdapat 3 aksi teror kepada polisi dimana salah satunya ada anggota polisi yang tewas. Teror pertama terjadi di Mapolda Sumatera Utara tepat di Hari Raya Idul Fitri pada 25 Juni 2017. Satu prajurit, Aiptu Martua Sigalingging, gugur ditikam pelaku yang berjumlah dua orang. Tak hanya menikam, usai tahu Aiptu Martua sudah tak bernyawa, mereka membakar Pos Polisi beserta Aiptu Martua di dalamnya. “Luka tusukan di tubuhnya di dada di leher di lengan bertubi-tubi. Dan leher dalam kondisi tergorok. Jadi bukan hanya tusukan saja, tapi memang leher dalam kondisi tergorok, ada luka melintang dari kiri ke kanan atau sebaliknya,” ujar Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto Para pelaku teror ini sungguh tidak pantas berada di Indonesia. Islam Indonesia itu Islam yang damai dan tidak mengenal perperangan. Kalau ingin mencari masalah silahkan pergi ke wilayah Timur Tengah saja. Orang...

Teroris Berani Beraksi di Masjid, Apa yang Bikin Mereka Nekat?

Ilustrasi: Masjid Falatehan di Jakarta yang menjadi lokasi serangan teror terhadap aparat. Jakarta - Beberapa hari belakangan terakhir, aksi terorisme terjadi di beberapa wilayah. Kelompok terorisme ini semakin nekat dengan menyerang aparat polisi secara langsung, bahkan masuk ke markas kepolisian. "Doktrin jihad versi kelompok teroris ini diyakini jadi alasan mengapa mereka semakin nekat dan berani," ujar Direktur Pusat Kajian Timur Tengah dan Dunia Islam (PKTTDI) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Hery Sucipto kepada detikcom, Sabtu (1/7/2017). Seperti diketahui, dua aksi teroris menyerang aparat polisi di Mapolda Sumatera Utara dan di Masjid Falatehan yang masih berada di dekat komplek Lapangan Bhayangkara, Mabes Polri. "Ini bukti teroris semakin nekat," imbuh Hery. Menurut anggota Lembaga Kerjasama dan Hubungan Internasional PP Muhammadiyah ini, bagi kelompok teroris, rukun Islam bukan ada lima seperti yang diyakini umat Islam pada umumn...

Mestinya Shalat itu Mencegah Dari Tindakan Biadab Bukan Malah Menusuk Anggota Brimob

“Shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar”, kalimat ini sudah sering terdengar, bahkan pernah dipajang begitu besar dan jelas di berbagai tempat. Tapi apakah otomatis orang-orang yang melakukan gerakan shalat langsung terbebas dari perbuatan keji dan mungkar itu?,  atau tidak melakukan tindakan biadab?. Bagaimana dengan pelaku penusukan dua orang anggota Brimob itu?, setelah shalat langsung melakukan perbuatan biadab?. Kemungkinan besar si Pelaku penusukan itu menyerap ajaran-ajaran agama kebencian yang selama ini menguasai mimbar-mimbar. Bahkan tidak menutup kemungkinan beberapa waktu lalu kampanye kebencian atas nama agama makin membuat otaknya subur dan memasuki alam bawah sadarnya, dan begitu mudah terpicu. Lalu siapa yang bertanggungjawab atas kejadian ini?, Si orator fentung itu?, atau para penyelenggara Demo? atau si Ahli kristologi dari negeri goyang?, atau si mualaf yang langsung dikarbitkan menjadi ustad? atau si penjual sepre...

Nodai Idul Fitri,NU Kecam Teroris

JAKARTA – Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengecam aksi teror yang terjadi Mapolda Sumatera Utara tepat di Hari Raya Idul Fitri 1438 H atau Minggu 25 Juni 2017. Seharusnya, Idul Fitri bisa diisi dengan penuh rasa kehangatan dan persaudaraan.  “Sungguh sangat disesalkan ada penyerangan oleh kelompok teroris pada Hari Raya Idul Fitri, hari yang seharusnya dirayakan dengan penuh kehangatan, dan persaudaraan, justru dinodai oleh mereka kelompok teroris dengan menyebarkan ketakutan dan juga teror yang membahayakan,” ujar Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Maman Imanulhaq dalam siaran persnya, Senin (26/7/2017). Selain mengungkapkan rasa keprihatinannya terhadap korban, Maman menegaskan bahwa rakyat akan selalu berada di belakang aparat untuk memerangi terorisme. Berbagai teror yang terjadi, sambungnya, telah membuktikan bahwa terorisme memiliki ideologi kebencian dan kehancuran yang tidak sesuai dengan ajaran Islam “Maka, siapa pun yang mengklaim atas ...

GNPF Tak Bela Rizieq, Tak Berani Minta Rekonsiliasi atau Ancam Revolusi

Satu hal yang menarik dari pertemuan GNPF dengan Presiden Jokowi di Istana adalah, tidak adanya bahasan khusus tentang Rizieq yang sekarang kabur ke Arab Saudi. Bachtiar Nasir malah memuji kinerja Jokowi. Bahkan pengacara Rizieq, Kapitra Ampera, yang biasanya sangat lihai dalam memberikan komentar-komentara absurd, dari visa unlimited sampai undangan raja Salman, namun setelah bertemu Jokowi dia tidak berani membuat pernyataan yang bersifat klaim sepihak. “Sebetulnya lebih ke arah silaturrahim hari ini. Kami belum bicara ke tingkat (rekonsiliasi) itu.” Petinggi GNPF yang datang menemui Jokowi di Istana, tidak ada yang berani membahas soal rekonsiliasi atau meminta Rizieq dibebaskan. Tidak ada sama sekali. Saya pikir inilah akhir dari arogansi seorang Rizieq. Kini orang yang pernah dua kali dipenjara dan sekarang sedang menyandang status tersangka untuk dua kasus hukum, sepertinya sudah ditinggal oleh para pendukungnya sendiri. GNPF tidak mendengar seruan Rizie...